Top Sekolah Quotes

Browse top 18 famous quotes and sayings about Sekolah by most favorite authors.

Favorite Sekolah Quotes

1. "Mungkin setelah tamat SMA kita hanya akan mendulang timah atau menjadi kuli,tapi disini Kal,di sekolah ini,kita tak akan pernah mendahului nasib kita!!Arai"
Author: Andrea Hirata
2. "Sejarah kita sejarah kelam, sejarah buram dari sekolah."
Author: Arif Saifudin Yudistira
3. "Kemiskinan tak memungkinkan buku-buku dan alat tulis terbeli. Sekolahpun berubah, ia menjadi kehilangan makna."
Author: Arif Saifudin Yudistira
4. "Dari sekolah militer kehidupan: apa yang tidak membunuhku membuatku kuat"
Author: Friedrich Nietzsche
5. "Di sekolah, anak-anak belajar bahasa Indonesia, tetapi mereka tak pernah diajar berpidato, berdebat, menulis puisi tentang alam ataupun reportase tentang kehidupan. Mereka cuma disuruh menghafal : menghafal apa itu bunyi diftong, menghafal definisi tata bahasa, menghafal nama-nama penyair yang sajaknya tak pernah mereka baca."
Author: Goenawan Mohamad
6. "Sekolahpun keliru bila ia tidak tahu diri bahwa peranannya tidak seperti yang diduga selama ini. Ia bukan penentu gagal tidaknya seorang anak. Ia tak berhak menjadi perumus masa depan."
Author: Goenawan Mohamad
7. "Pohon ini hampir tak bisa bernapas, Eomma. Dia kesakitan. Rantingnya dipotong, itu tak baik buat dia. Ibu guru di sekolahpernah bilang, ‘pohon yang ranting atau dahannya dipotong samasaja seperti ketika bayi dipotong tangan dan kakinya, apalagi jikapohon itu masih kecil'."-Cerita 1: Hyunnie and His Protective Side, TMHOLT hal.2-"
Author: Ida R. Yulia
8. "Dalam Genggamanmu, IbukBuku baru. Sepatu baru. Sekolah baruUntuk anak-anakmuAgar mereka merekahKau bangun jembatan agar mereka tak melalui kali yang keruhKau gendong jiwa mereka agar selalu hangatKau nyalakan lentera hati mereka...Malam minggu kemarin. Kau tak hanya berjanji.Kau berikan napasmuKau genggam anak-anakmu. Kau genggam erat.Di tanganmu yang halus, kau pastikanMereka tidak terjatuh..."
Author: Iwan Setyawan
9. "Selama ini kulihat hidup semakin rumit. Banyak orang tega membunuh hati nurani dengan tangan mereka sendiri. Kusaksikan tangan-tangan politik semakin kotor, meraih kemenangan demi kepentingan sendiri. Pemimpin saling berebut nasi. Pemimpin yang bahkan tak bisa memimpin hidup mereka sendiri. Lumpur menggenangi ratusan rumah, mesjid, sekolah, warung nasi, juga kenangan. Lumpur panas yang tumpah karena uang dan ketidakpedulian. Bahkan ada juga yang membunuh dengan mengatasnamakan agama. Beberapa orang dilarang beribadah di tempat ibadah mereka sendiri. Di mana ada proyek sosial, di sana cenderung ada penipuan. Banyak orang kehilangan hati mereka sendiri. Keluarga merindukan kehangatan."
Author: Iwan Setyawan
10. "Nduk, sekolah nang SMP iku mesti. Koen kudu sekolah. Uripmu cek gak soro koyok aku, Nduk! Aku gak lulus SD. Gak iso opo-opo. Aku mek iso masak tok. Ojo koyok aku yo Nduk! Cukup aku ae sing gak sekolah...," kata Ibuk."
Author: Iwan Setyawan
11. "Ibuk dan Bapak tak pernah menentukan aturan kapan dan berapa lama anak-anak harus belajar. Isa dan adik-adiknya telah membuka hati mereka sendiri. Membuka buku mereka sendiri. Ibuk dan Bapak telah bekerja sepenuh hati untuk memenuhi kebutuhan sekolah mereka. Mungkin, anak-anak ini melihat kesungguhan hati orangtua mereka yang telah berjuang tak kenal lelah untuk lima anaknya. Mungkin, anak-anak ini telah merasakan keringat bapaknya menetes di kulit mereka. Mungkin, cinta Ibuk telah memasuki darah mereka, lewat bubur beras merah dan sinar matanya yang syahdu. Mungkin, anak-anak ini tersentuh oleh hidup Bapak dan Ibuk yang sederhana dan penuh keprihatinan. Isa dan adik-adiknya ingin berjuang seperti mereka. Ingin memberikan cinta yang penuh kepada orangtuanya."
Author: Iwan Setyawan
12. "Agar hidupmu tidak sengsara sepertiku, Nak. Aku tidak lulus SD. Tidak bisa apa-apa. Hanya bisa memasak saja. Jangan sepertiku ya, Nak. Cukup aku saja yang tidak sekolah. Itu yang selalu Ibuk katakan di hadapan anak-anaknya."
Author: Iwan Setyawan
13. "Pak, aku mau sekolah sing pinter saja. Aku mau jadi orang pinter!" balas Bayek."
Author: Iwan Setyawan
14. "Albus Severus," kata Harry pelan, sehingga tak ada orang lain kecuali Ginny yang bisa mendengarnya, dan Ginny cukup bijaksana untuk berpura-pura melambai kepada Rose, yang sekarang sudah di atas kereta, "kau dinamakan seperti dua kepala sekolah Hogwarts. Salah satunya adalah Slytherin dan dia barangkali orang paling berani yang pernah kutemui."
Author: J.K. Rowling
15. "Mengapa bulan di jendela makin lama makin redup sinarnya?Karena kehabisan minyak dan energi.Mimpi semakin mahal,hari esok semakin tak terbeli.Di bawah jendela bocah itu sedang suntukbelajar matematika. Ia menangis tanpa suara:butiran bensin meleleh dari kelopak matanya.Bapaknya belum dapat duit buat bayar sekolah.Ibunya terbaring sakit di rumah.Malu pada guru dan teman-temannya,coba ia serahkan tubuhnya ke tali gantungan.Dadah Ayah, dadah Ibu..Ibucinta terlonjak bangkit dari sakitnya.Diraihnya tubuh kecil itu dan didekapnya.Berilah kami rejeki pada hari inidan ampunilah kemiskinan kami."
Author: Joko Pinurbo
16. "Siapa gerangan yang menciptakan diorama? Apakah sejak semula itu dibuat untuk alat informasi, pendidikan, propaganda, atau hiburan? Atau semuanya sekaligus? Apakah penciptanya kelak tahu bahwa diorama bisa digunakan secara efektif sebagai dongeng bagi anak-anak sekolah, tentang bagaimana negeri ini terbentuk menjadi sebuah negeri penuh luka dan paranoia?"
Author: Leila S. Chudori
17. "Suatu masyarakat paling primitif pun, misalnya di jantung Afrika sana, tak pernah duduk di bangku sekolah, tak pernah melihat kitab dalam hidupnya, tak kenal baca-tulis, masih dapat mencintai sastra, walau sastra lisan(Bumi Manusia, h. 233)"
Author: Pramoedya Ananta Toer
18. "Semakin tinggi sekolah bukan berarti semakin menghabiskan makanan orang lain. Harus semakin mengenal batas(Bumi Manusia, h. 138)"
Author: Pramoedya Ananta Toer

Sekolah Quotes Pictures

Quotes About Sekolah
Quotes About Sekolah
Quotes About Sekolah

Today's Quote

I've never read Joseph Campbell, and I don't know all that much about story archetypes."
Author: Christopher Nolan

Famous Authors

Popular Topics