Top Tanah Quotes

Browse top 46 famous quotes and sayings about Tanah by most favorite authors.

Favorite Tanah Quotes

1. "Karena yang membatasi kita atas dan bawah hanyalah tanah dan langit."
Author: Ahmad Fuadi
2. "Ada kalanya lelaki terkesan oleh perempuan lantaran dia sedang berada di luar lingkungan sehariannya, seperti yang terjadi pada para pekerja pengukur tanah itu. Ada kalanya lelaki tunduk kepada naluri pemberian alam; kecenderungan berpetualang. Ada kalanya pula seorang perempuan memang dibekali kelebihan-kelebihan tertentu sehingga kehidupan memberinya tempat pada wilayah perhatian lawan jenis."
Author: Ahmad Tohari
3. "Demi kezaliman yang terjadi di Palestina, di Kashmir, di Afganistan, di Irak atau di manapun juga ... kenapa mereka rela menyengsarakan saudara-saudaranya yang sebangsa dan setanahair?Berarti ada yang salah dengan rasa kebangsaan mereka. Mereka merasa lebih dekat dengan warga asing, dengan negara asing, ketimbang dengan saudara-saudaranya sendiri, dengan bangsa dan negaranya sendiri. Bagi mereka, padang pasir dan pohon kurma menjadi lebih penting ketimbang bumi yang subur ini."
Author: Anand Krishna
4. "Maka di negeri ini, para pemimpi adalah pemberani. Mereka Kesatria di tanah nan tak peduli. Medali harus dikalungkan di leher mereka."
Author: Andrea Hirata
5. "Pah…commoners, traders." Ergus made a disparaging gesture.Traders with money, Ergus. Money they put at the disposition of young Tanahkos," Lmachdan said in a dry tone. "Money that turns into soldiers. Soldiers who are used to extort tribute from us. Tribute that is turned into more soldiers. The warlord has a good thing going, I'll say that for him."
Author: Andrew Ashling
6. "Dirimu, dan intelekmu, itulah hartamu, andai rumah itu musnah dan tanah itu dirampas."
Author: Arena Wati
7. "Triti London itu yang mengorbankan tanah air bangsa Melayu, tidak hanya terpisah dan berpecah bentuk isi dan makna Kemelayuan Besar, tapi menjadi keping-kepingan kecil, tapi Melayu berkeping-keping kecil itu dihisap, diperah, ditekan, untuk dilenyek oleh pendatang asing."
Author: Arena Wati
8. "Ia tahu apa yang menjadi haknya, lewat jalan apa pun akhirnya akan jatuh ke tangannya pula. Sebaliknya apa yang belum menjadi miliknya, diberikan di depan mulut pun akan jatuh ke tanah. Gusti Allah sudah mengatur semuanya."
Author: Arswendo Atmowiloto
9. "Kita diminta menjadi budayawan patriotik yang jujur; berani mengkritik persekitaran dan negara tanpa berasa khuatir dituduh tidak setia atau berkhianat kerana sebagai pencinta tanah air, kita sedang berperang dengan kejahatan bangsa kita. Pihak yang berkhianat ialah budayawan yang memuji dan mendewakan pemimpin dengan niat mengambil hati (salah atau benar) bagi kepentingan dirinya. Salah atau benar ini adalah tanah air kita. Lantaran itu kita berani mengkritiknya dan berani mempertahankannya."
Author: Baharuddin Zainal
10. "Di dunia ini, manusia terlahir dalam dua spesies, yang pertama adalah manusia bersayap dan yang kedua manusia tanpa sayap. Manusia yang bersayap ditakdirkan untuk terbang tinggi menggapai langit tak terbatas. Sementara spesies yang kedua, kebalikannya, ia ditakdirkan untuk tetap menjejak bumi dan menjalani hidupnya dengan terus menyentuh tanah. Nggak ada yang buruk dengan spesies yang kedua, mereka hanya menjalani takdirnya. Begitu saja."
Author: Devania Annesya
11. "Di depan multazam, aku luruh bersimpuh. Semua peristiwa, kehilangan dan godaan itu kubawa ke haromain, tanah suci."
Author: Dian Nafi
12. "Mustahil pembajak sawah tgnnya tdk terkotori tanah, sama tdk ada seorg jendral di manapun tgnnya bersih dr bekas lumuran darah"
Author: Dian Nafi
13. "Saya mencintai negeri indah dengan gugusan ribuan pulaunya sampai saya mati dan menyatu dengan tanah tercinta"
Author: Donny Dhirgantoro
14. "Kenapa selama ini orang praktis terlupa akan burung gereja, daun asam, harum tanah: benda-benda nyata yang, meskipun sepele, memberi getar pada hidup dengan tanpa cincong? Tidakkah itu juga sederet rahmat, sebuah bahan yang sah untuk percakapan, untuk pemikiran, untuk puisi—seperti kenyatan tentang cinta dan mati?(Caping 2, h. 72)"
Author: Goenawan Mohamad
15. "Sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati..(Caping 4, h. 80)"
Author: Goenawan Mohamad
16. "Keprihatinan, seperti halnya kebanggaan, juga kecemasan, seperti halnya optimisme—semua itu adalah pertanda rasa ikut memiliki. Atau rasa terpanggil. Barangkali karena tanah air memang bukan cuma sepotong geografi dan selintas sejarah. Barangkali karena tanah air adalah juga sebuah panggilan"
Author: Goenawan Mohamad
17. "Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada pada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci. Jika ia jatuh pada tanah yang subur, di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budi pekerti yang tinggi dan lain-lain perangai terpuji."
Author: Hamka
18. "Cinta bukanlah suatu persamaan. Cinta bukan suatu kontrak, dan bukan suatu akhir yang bahagia. Cinta adalah papan tulis di bawah kapur tulis, tanah dari mana gedung-gedung muncul, dan oksigen dalam udara. Cinta adalah tempat aku kembali, ke mana pun aku pergi."
Author: Jodi Picoult
19. "Kamu tahu betapa dalam rasa hormatku pada rasa cintaku ini? Bahkan aku bisa cemburu jika kamu memberi perhatian pada bunga-bunga. Aku juga cemburu pada angin yang membelai wajahmu. Aku juga cemburu pada tanah yang kamu pijak."
Author: Jung Eun Gwol
20. "Seol : "Kenapa Nona tidak mengantarkannya keluar? Kenapa Nona hanya duduk di sini? Kenapa?(Wol tersneyum menjawab tanpa ekspresi)Wol : "Setiap kali ujung pakaiannya menyapu gerimis yang membawanya kesini, dan setiap kali gerimis yang beristirahat di atas rumput, beristirahat di atas tanah, dan beristirahat bersama embusan angin membasahi setiap bagian pakaiannya, maka itu berarti aku sedang mengiringinya sampai ke istana..."
Author: Jung Eun Gwol
21. "Bila kamu memeluk hujan, itu aku. Bila kamu menyentuh dingin, itu aku. Bila kamu mencium angin, itu aku. Maka kamu adalah tanah yang begitu tabah menadah basah."
Author: Lan Fang
22. "Pohon yang besarnya sepelukan, tumbuh dari benih yang kecil saja.Menara setinggi sembilan tingkat, dibangun mulai dari seonggok tanah.Perjalanan seribu li, dimulai dari satu langkah."
Author: Lao Tzu
23. "Bagaimana tentang angin yang berhembus kencang atau badai yang mengganas?Bukankah itu bisa menggoyahkan cinta kita?Tidak!!Kita telah mengakar pada tanah dengan kuatKita tak akan goyah, percayalah.."
Author: Layla R. Aprilyani
24. "Peluru, kamu panas, dan kamu membawa kematian, tetapi bukankah kamu abdiku yang setia? Tanah hitam, kamu akan menyelimutiku, tetapi bukankah aku menginjakmu dengan kudaku? Kamu, maut, kamu dingin, tetapi akulah tuanmu.Tanah akan mengambil tubuhku, langit akan mengambil jiwaku."
Author: Leo Tolstoy
25. "Melayu mudah lupa Melayu mudah lupa Melayu mudah lupaDulu bangsanya dipijak Melayu mudah lupaDulu bangsanya retak Melayu mudah lupaDulu bangsanya teriak Melayu mudah lupaDulu bangsanya haprak Melayu mudah lupaDulu bangsanya kelas dua Melayu mudah lupaDulu bangsanya hina Melayu mudah lupaDulu bangsanya sengketa Melayu mudah lupaDulu bangsanya derita Melayu mudah lupaDulu bangsanya kerdil Melayu mudah lupaDulu bangsanya terpencil Melayu mudah lupaTiada daulat Tiada maruah Tiada bebasMelayu mudah lupa Melayu mudah lupa Melayu mudah lupaSejarah bangsanya yang lena Tanah lahirnya yang merekah berdarahIngatlah Ingatlah Ingatlah Wahai bangsaku Jangan mudah lupa lagi Kerana perjuanganmu belum selesai"
Author: Mahathir Mohamad
26. "Tidak banyak tahu, tentang aku dan hujandi setiap tetesnya luruh jatuh menunuju bumidi setiap bulirnya menyentuh tanahdi setiap rinainya menerepa wajah kutitip segenggam rindukulirih sejuta pintakupanjat doa dalam harapkusemoga senyummu selalu merekah walau berselimut lelap"
Author: Majdy
27. "Usahlah menghentak kaki di Tanah Madinah. Muhammad dan sahabatnya masih ada dan selalu akan memeriksa adab kita."
Author: Mawar Safei
28. "Hanya kebesaran Ilahi di Tanah Barakah ini, titik kecil menjadi kawasan yang lapang buat yang mencari."
Author: Mawar Safei
29. "Mana kapal silam, mana kapal pendjeladjah kita? Padahal tanah air kita adalah negara kepulauan."
Author: Mr. Aujong Peng Koen
30. "Memang begitulah hati manusia. Orang takut mengejar impian-impian mereka yang terpenting, sebab mereka merasa mereka tidak berhak memperolehnya, atau bahwa mereka tak mampu meraihnya. Kami, hati mereka, menjadi gentar hanya dengan berpikir tentang orang-orang tercinta yang akan pergi selamanya, atau tentang saat-saat yang seharusnya baik tapi ternyata tidak, atau tentang harta-harta yang mungkin mestinya sudah ditemukan tapi selamanya terkubur dalam tanah. Karena, saat hal-hal ini terjadi, kami sangat menderita."
Author: Paulo Coelho
31. "Apabila sebagai pengarang harus kutangguhkan begitu banyak ketidakadilan di tanahair sendiri, penganiayaan lahir-batin, perampasan kebebasan dari penghidupan, hak dan milik, penghinaan dan tuduhan, bahkan juga perampasan hak untuk membela diri melalui mass-media mau pun pengadilan, aku hanya bisa mengangguk mengerti. Sayang sekali kekuasaan tak bisa merampas harga diri, kebanggaan diri, dan segala sesuatu yang hidup dalam batin siapa pun."
Author: Pramoedya Ananta Toer
32. "Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pengeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu turunan tidak bakal selesai. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai.(Gadis Pantai, h.121)"
Author: Pramoedya Ananta Toer
33. "Kalau orang tak tahu sejarah bangsanya sendiri –tanah airnya sendiri– gampang jadi orang asing di antara bangsa sendiri."
Author: Pramoedya Ananta Toer
34. "Ibu bapak tani—ibu bapak tanah air—akan meratapi putera-puterinya yang terkubur dalam udara terbuka di atas rumput hijau, di bawah naungan langit biru di mana awan putih berarak dan angin bersuling di rumpun bambu. Kemudian tinggallah tulang belulang putih yang bercerita pada musafir lalu, " Di sini pernah terjadi pertempuran. Dan aku mati di sini." (h. 22)"
Author: Pramoedya Ananta Toer
35. "Kau tidak mengabdi padaku man, tidak, man. Kalau kau cuma mengabdi padaku, kalau aku tewas kau tinggal hidup, kau mengabdi kepada siapa lagi? kau cari Bendoro baru, kalau dia juga tewas? Kau mengabdi pada tanah ini, tanah yang memberimu nasi dan air. Tapi para raja dan para pangeran dan para bupati sudah jual tanah keramat ini pada Belanda. Kau hanya baru sampai melawan para raja, para pangeran, dan para bupati. Satu keturunan tidak bakal selesai, man. Kalau para raja, pangeran, dan bupati sudah dikalahkan, baru kau bisa berhadapan pada Belanda. Entah berapa turunan lagi. Tapi kerja itu mesti dimulai."
Author: Pramoedya Ananta Toer
36. "Aku boleh seorang pelacur! Aku boleh seorang sampah masyarakat! Aku seorang bintang film gagal! Tapi beradat! Tidak. Aku juga punya tanah air. Aku Larasati, bintang ara. Sedang sebutan Miss pun aku tak pernah pakai. Ara! Cukup Ara. Mengapa mesti dengan Miss? Sebutan itu akan membuat aku berkulit putih. Apakah sebutan itu tantangan kaum pria, kalau aku milik siapa saja?"
Author: Pramoedya Ananta Toer
37. "Aku juga punya tahan air. Jelek-jelek tanah airku sendiri, bumi dan manusia yang menghidupi aku selama ini. Cuma binatang ikut Belanda!"
Author: Pramoedya Ananta Toer
38. "Sewaktu Jepun datangke Tanah MelayuKota Bharulah, kota kecilyang pertama didaratibersama Aceh dan Pataniia dikenalsebagai ibu kotaSerambi Makkah."
Author: Rahimidin Zahari
39. "Sembah derhakakah kalauyang dipertahankanadalah kesucian Islam,kebajikan jelata dan tanah watan."
Author: Rahimidin Zahari
40. "Apa yang kau tangkap dari suara hujanDari daun-daun bugenvil yang teratur mengetuk jendel.Apakah yang kau tangkap dari bau tanahDari ricik air yang turun di selokan"
Author: Sapardi Djoko Damono
41. "Saya mengajak masyarakat Indonesia, perkuat gerakan koperasi di seluruh tanah air sebagai sarana wujudkan kesejahteraan."
Author: SBYudhoyono
42. "Bagai pasir di tanah itu, aku tak harus jadi penting"
Author: Seno Gumira Ajidarma
43. "Kami jelaskan apa sebenarnya tujuan kami. Kami katakan bahwa kami adalah manusia-manusia yang tidak percaya pada slogan. Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrisi dan slogan-slogan. Seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal obyeknya. Dan mencintai tanah air Indonesia dapat ditumbuhkan dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dari dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat. Karena itulah kami naik gunung."
Author: Soe Hok Gie
44. "Kami baru pulang dari tanah kuburanyang menanam kampung kami."
Author: Suhaimi Haji Muhammad
45. "Sewaktu kanak-kanak aku percaya pada cinta, sama seperti aku percaya pada peri. Namun pada suatu hari aku mencari di celah-celah kayu dan di balik tudung-tudung jamur. Dan aku tidak menemukan peri atau makhluk-makhluk gaib, hanya lumut, jamur, tanah, dan serangga...Serangga itu bukannya berciuman, melainkan saling memangsa"
Author: Susanna Tamaro
46. "Bagiku, hujan menyimpan senandung liar yang membisikan 1001 kisah.Tiap tetesnya yang merdu berbisik lembut, menyuarakan nyanyian alam yang membuatku rindu mengendus bau tanah basah.Bulir-bulir yang jatuh menapak diatas daun, mengalir lurus menyisakan sebaris air di dedaunan.Sejuk, mirip embun.Hidup seperti ini.Aku bisa merasakan senja yang bercampur bau tanah basah sepeninggal hujan.Seperti kanvas putih yang tersapu warna-warna homogen indah.Dentingan sisa-sisa titik hujan di atas atap terasa seperti seruling alam yang bisa membuatku memejamkan mata.Melodi hidup, aku menyebutnya seperti itu.Saat semua ketenangan bisa kudapatkan tanpa harus memikirkan apa pun."
Author: Yoana Dianika

Tanah Quotes Pictures

Quotes About Tanah
Quotes About Tanah
Quotes About Tanah

Today's Quote

Alessa looked at Brennus giving him a smirk."Brennus.""Alessa.""Still think that you are the God's gift to all faeries?""Still trying to convince yourself that I am not?" Brennus responded smirking arrogantly and leaning back in his chair."
Author: B.C. Morin

Famous Authors

Popular Topics